Selasa, 19 Maret 2013

Mandar Kalung Kuning di Cagar Alam Teluk Adang (2)

Mandar Kalung Kuning (Gallirallus philippensis)
di Cagar Alam Teluk Adang (2)


Oleh. M. Danang Anggoro 

        Tim monitoring burung Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Kalimantan Timur, pada kurun waktu bulan November 2012 telah mencatat dan mendokumentasikan perjumpaan dengan jenis burung Mandar Kalung Kuning atau yang lebih dikenal dengan nama ilmiah Gallirallus philippensis (Linnaeus,1776). Proses identifikasi sempat memerlukan waktu yang agak lama karena pada awalnya sempat terjadi kebingungan untuk mengidentifikasi jenis ini, dimana tim monitoring hanya mengandalkan buku Burung Burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan yang disusun oleh John MacKinnon dan kawan-kawan (2010). Pada buku tersebut jenis ini hampir mirip dengan Mandar-padi Erasia (Rallus aquaticus) atau dengan Mandar-padi Sintar (Gallirallus striatus). Seperti tergambar di bawah ini, gambar paling kiri adalah foto burung yang diambil di lapangan oleh tim monitoring burung Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Kalimantan Timur di Cagar Alam Teluk Adang, gambar (a) adalah gambar Mandar-padi Erasia (Rallus aquaticus) (MacKinnon et. al., 2010) dan gambar (b) adalah gambar Mandar-padi Sintar (Gallirallus striatus) (MacKinnon et. al., 2010).


Akan tetapi identifikasi awal di lapangan ini pun belum meyakinkan bagi kami karena terdapat perbedaan mencolok mengenai pola garis di bagian bawah yang sampai di leher, pola di sayap dan pola di bagian sekitar mata yang sampai di tepi paruh, warna kaki dan lain-lain. Akhirnya kami mencoba komunikasi online dengan beberapa penggiat konservasi burung untuk membantu identifikasi jenis ini. Kami mengunggah foto burung yang kami dapatkan di jaringan sosial Pengamat Burung Indonesia (PENGABDI) yaitu sebuah grup yang menjadi wadah bertukar informasi dan silaturahmi untuk semua Pengamat Burung yang ada di Indonesia. Grup ini merupakan hasil diskusi pengamat burung yang hadir pada acara Pekan Biodiversitas Indonesia pada tanggal 9-10 Juni 2012 di Yogyakarta. Atas bantuan rekan-rekan di grup tersebut akhirnya teridentifikasi bahwa jenis yang kami foto tersebut adalah Mandar Kalung Kuning (Gallirallus philippensis) yang kebetulan tidak terdapat di buku Burung Burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan yang disusun oleh John MacKinnon dan kawan-kawan (2010).
Hasil pengamatan Mandar Kalung Kuning di Cagar Alam Teluk Adang, dideskripsikan sebagai berikut : burung tidak terbang, berukuran sedang kurang lebih 30 cm, mahkota berwarna coklat, alis berwarna abu-abu terang, garis mata berwarna coklat menyambung dengan warna coklat dari bagian mahkota ke bagian tengkuk, garis mata di dekat mata berwarna coklat sedangkan di belakang mata berwarna coklat muda kekuningan, dagu berwarna abu-abu sampai dengan batas leher dengan dada, iris berwarna coklat kemerahan, paruh berwarna hitam kemerahan, sisi lambung mulai bagian dada dan bagian bawah memiliki pola khas garis-garis putih hitam yang halus, bagian punggung berwarna coklat dengan totol-totol putih dan hitam. Burung ini di amati berada di semak-semak agak terbuka yang kering, berdekatan dengan rawa-rawa dan hutan mangrove.  
Berdasarkan daftar merah spesies terancam yang dikeluarkan oleh IUCN ver. 3.1 tahun 2012, Mandar Kalung Kuning atau yang dalam bahasa Inggris disebut Banded Land-Rail, Banded Rail, Buff-banded Rail, Sharpe's Rail termasuk dalam kategori Least Concern (LC; Berisiko Rendah). Least Concern  adalah kategori IUCN yang diberikan untuk spesies yang telah dievaluasi namun tidak masuk ke dalam kategori manapun. Informasi tambahan menyebutkan bahwa jenis ini mempunyai sebaran yang sangat luas. Range sebaran spesies ini meliputi wilayah Indomalaya, Australasia dan Oceania.
Sebaran yang luas dan karakteristik sebagai jenis burung yang residen (menetap)  menyebabkan jenis ini memiliki banyak sub jenis. Terdapat 20 sub jenis untuk Gallirallus philippensis, dengan daerah persebarannya sebagai berikut (Kutilang, 2013):

  • ·         Gallirallus philippensis  andrewsi (Mathews, 1911) – Kep. Cocos (Keeling).
  • ·         Gallirallus philippensis  philippensis (Linnaeus, 1766) – Filipina; Sulawesi ke timur sampai Buru; Sumba (ras?), Alor, Sawu, Roti dan Timor.
  • ·         Gallirallus philippensis  pelewensis (Mayr, 1933) – Kepulauan Palau.
  • ·         Gallirallus philippensis  xerophilus (van Bemmel & Hoogerwerf, 1941) – Gunungapi (Sunda Kecil).
  • ·         Gallirallus philippensis  wilkinsoni (Mathews, 1911) – Flores.
  • ·         Gallirallus philippensis  lacustris (Mayr, 1938) – Pulau Papua bagian utara.
  • ·         Gallirallus philippensis  reductus (Mayr, 1938) – Dataran Tinggi Tengah dan pesisir timur-laut Papua timur-laut, termasuk Pulau Long I.
  • ·         Gallirallus philippensis  anachoretae (Mayr, 1949) – Kepulauan Kaniet (Anchorite), barat-daya Kepulauan Ninigo.
  • ·         Gallirallus philippensis  admiralitatis (Stresemann, 1929) – Kepulauan Admiralty.
  • ·         Gallirallus philippensis  praedo (Mayr, 1949) – Skoki (Kep. Admiralty).
  • ·         Gallirallus philippensis  lesouefi (Mathews, 1911) – New Hanover, Kepulauan Tabar dan Tanga, mungkin juga di New Ireland (Kepulauan Bismarck).
  • ·         Gallirallus philippensis  meyeri (Hartert, 1930) – New Britain dan Kepulauan Witu (Kepulauan Bismarck).
  • ·         Gallirallus philippensis  christophori (Mayr, 1938) – Kepulauan Solomon.
  • ·         Gallirallus philippensis  mellori (Mathews, 1912) – Pulau Papua bagian selatan dan barat-daya, Australia dan P. Norfolk.
  • ·         Gallirallus philippensis  assimilis (G. R. Gray, 1843) – Selandia Baru.
  • ·         Gallirallus philippensis  tounelierie Schodde & de Naurois, 1982 – Gugus kepulauan koral dari Pulau Papua bagian tengara dan Great Barrier Reef ke timur sampai Surprise group (lepas pantai utara New Caledonia).
  • ·         Gallirallus philippensis  swindellsi (Mathews, 1911) – New Caledonia dan Kepulauan Loyalty.
  • ·         Gallirallus philippensis  sethsmithi (Mathews, 1911) – Vanuatu dan Fiji.
  • ·         Gallirallus philippensis  ecaudatus (J. F. Miller, 1783) – Tonga.
  • ·         Gallirallus philippensis  goodsoni (Mathews, 1911) – Pulau Samoa dan Niue.
Meskipun memiliki sebaran yang luas, hal yang menarik tentang spesies ini di Indonesia adalah lebih banyak dilaporkan untuk bagian Indonesia Timur seperti wilayah Sulawesi, Maluku, Papua dan sekitarnya. Kajian sementara mengenai data-data pengamatan spesies ini di Kalimantan sangat terbatas. Sampai dengan bulan Maret 2013, selain laporan perjumpaan dengan Mandar Kalung Kuning di Cagar Alam Teluk Adang, hanya dapat ditemukan 1 (satu) laporan perjumpaan di daerah Ketapang, Kalimantan Barat pada tahun 2010. Sementara untuk sebaran di wilayah Kalimantan Timur belum didapatkan kajian dan informasinya. 
Kemudian kami mencoba mempelajari informasi sebaran spesies ini melalui data-data yang ditampilkan oleh IUCN dalam daftar merah spesies terancam. Peta informasi sebaran yang dimiliki IUCN sampai dengan tahun 2012  menunjukkan bahwa belum ada sama sekali laporan mengenai keberadaan jenis Mandar Kalung Kuning di dataran Kalimantan. Berdasarkan peta tersebut, sebaran jenis ini meliputi Indonesia bagian Timur, Filipina, beberapa spot di pesisir Australia, Papua Nugini, Selandia Baru dan kepulauan di Pasifik. Peta sebaran Mandar Kalung Kuning menurut IUCN (2012) sebagai berikut :

Semoga laporan perjumpaan dan dokumentasi burung Mandar Kalung Kuning di Cagar Alam Teluk Adang oleh tim monitoring burung Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Kalimantan Timur ini menjadi tambahan wawasan mengenai studi burung-burung di Indonesia.Tetap semangat, Selamatkan Cagar Alam Teluk Adang. (Danang Anggoro/SKW III/ 1977062001121002)

DAFTAR PUSTAKA

BirdLife International and Natureserve .2012. Bird Species Distribution Maps of The World 2012. Gallirallus philippensis. In: IUCN 2012. IUCN Red List of Threatened Species. Version 2012.2. http://maps.iucnredlist.org/map.html?id=106002855 (diakses, pada 19 Maret 2013).
IUCN Red List of Threatened Species.2012. Gallirallus philippensis (Banded Land-Rail, Banded Rail, Buff-banded Rail, Sharpe's Rail). http://www.iucnredlist.org/details/106002855/0 (diakses, pada 19 Maret 2013).
Kutilang Indonesia. 2013 . Mandar-padi Kalung Kuning . 27 Januari 2013. http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/mandar-padi-kalung-kuning/ (diakses, pada 19 Maret 2013).
MacKinnon J., Phillipps K., van Balen B. 2010. Burung-Burung di Sumatera, Jawa, Bali,   Kalimantan. Bogor. LIPI. Burung Indonesia.




Jumat, 15 Maret 2013

Bu...cita-cita ku pengen jadi pedagang ikan asin

Bu……Cita-Cita ku Pengen Jadi Pedagang Ikan Asin

Di awal menuliskan cerita ini, aku sempat mengalami kesulitan untuk merumuskan judul yang tepat. Beberapa alternatif kupelajari dengan serius. Apa sih sebenarnya yang ada dalam pikiranku sehingga memberiku ide untuk menuliskannya dan apa pesan yang ingin kusampaikan dari cerita ini. Melalui perhitungan yang cermat dan matang….”hahay mulai deh background sebagai orang eksaknya muncul….” Akhirnya aku beri judul apa adanya seperti yang diucapkan Panji –anakku- ke Ibunya yang kemudian diceritakan ke aku.

Panji - anak sulungku - kelas 2 SD berkulit bersih seperti ibunya….”aku mengakui bahwa kulitku lebih gelap meskipun tidak gelap total ”… Panji memiliki hobi main sepak bola. Ketika pulang sekolah baju seragamnya tidak pernah bersih, kaos kakinya dan celana seragamnya sering berlubang atau koyak.

Menjemput Panji ketika pulang sekolah adalah suatu ritual yang perlu waktu lebih dan stok kesabaran yang ekstra karena dia dapat berada dimana saja bersama teman-temannya, hal ini yang sering membuat ibunya kebingungan…..dan “hebatnya” itu selalu terulang meskipun dia dimarahi berulang kali. “ Ahh…namanya juga anak-anak”….

Suatu malam - setelah belajar - , Panji bercerita ke ibunya..” Bu…cita-citaku pengen jadi pedagang ikan asin “..Ibunya tertawa adik-adiknya juga ikut mentertawakan ucapan kakaknya…sebuah ungkapan polos seorang anak Indonesia yang sangat tidak mainstream. Mana ada anak-anak di Indonesia raya ini yang punya cita-cita jadi pedagang ikan asin. Anak-anak Indonesia selalu dicekoki cita-cita jadi dokter, tentara, polisi, presiden, pejabat dan hal-hal “tinggi” lainnya. Seakan-akan Indonesia hanya memerlukan mereka-mereka yang “tinggi” itu.

Tidak ada yang salah dengan cita-cita atau profesi-profesi “tinggi” tersebut karena sejak kecil, kita pun dicekoki dengan peribahasa “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”. Tapi kemudian saya bertanya-tanya…”memangnya bercita-cita misalnya menjadi petani atau  pedagang ikan asin atau apa lah…itu tidak bisa digantungkan di langit ya”…tanya kenapa???..

Menyambung ucapan Panji tadi…sambil tertawa sang Ibu dengan naluri mantan seorang guru di sekolah yang tidak klasikal,bertanya…”Kenapa Panji ingin jadi pedagang ikan asin ??”..bak seorang direktur utama perusahaan yang handal sedang mempresentasikan bussines project ke investornya, dia menerangkan… “ Bu,nanti ikan asin ku akan kupotong-potong bagus seperti ini…..dia memperagakan potongan kotak-kotak….kemudian kuberi bungkus yang baik dan menarik…trus aku ekspor ke Malaysia..trus aku dapat uang..trus aku kaya…”. Sang ibu hanya tertawa dan menjawab..”kalau mau jadi pedagang ikan asin kualitas ekspor harus belajar yang baik, terus supaya bisa menghitung uang yang benar harus belajar matematika yang tekun. Beberapa waktu kemudian, istriku menelepon dan menceritakan kejadian itu kepadaku..”Pa..tuh anakmu mau jadi pedagang ikan asin”…

Cerita istriku tentang ucapan Panji, pada awalnya juga membuatku tertawa. Kemudian aku merenung, orang tua mana sih di Indonesia ini yang akan merestui anaknya bercita-cita menjadi pedagang ikan asin. Semua orangtua Indonesia ingin dan selalu berdoa anaknya menjadi dokter, jenderal, presiden, pejabat tinggi..pokoknya serba “tinggi”. Mungkin aku pun orang tua tipe itu.

Yang aku kagumi dari cerita tentang cita-cita Panji adalah bahwa dia telah dapat memaknai sebuah pekerjaan, entah dia mendapat ide dari mana, dia sama sekali tidak meremehkan profesi sebagai pedagang ikan asin. Bahkan dia telah menciptakan bussines plan untuk usaha ikan asinnya dan added value-nya serta menciptakan pasar untuk produknya, dan sudah memikirkan tentang ekspor pula. Dia sudah mampu membayangkan sebuah produk lokal yang akan dibawanya ke tingkat global. Betapa mengagumkan pemikiran anak kelas 2 SD ini. Dan yang terpenting dia bercita-cita untuk kaya. Saya sebagai orang tua tipe semi klasik akhirnya hanya mengamini bagian akhir ini dengan tambahan..semoga anakku menjadi kaya dan bermanfaat dengan cara yang benar. 
Sebagaimana anak-anak lainnya, itu adalah cita-cita Panji di minggu ini. Beberapa minggu yang lalu dia bercita-cita jadi guru karena baginya jadi guru itu sangat enak..tinggal bilang ke murid-muridnya “buka LKS halaman sekian..kerjakan…kalau tidak selesai dijadikan PR ya”…enak kan. Entah beberapa minggu ke depan apakah dia akan memiliki cita-cita yang baru lagi. Tapi sebelum ada cita-cita yang baru itu biarlah dia dengan cita-citanya menjadi pedagang ikan asin dan memikirkan bagaimana dia mengembangkan usahanya dengan segala khayalan kreatifitasnya. Mungkin minggu depan ini dia akan ekspor ikan asinnya ke Amerika.